Berjalan dengan jarak terbatas
Sambil menunduk memutar masa lalu
Berjalan sampai pintu terkunci
Sambil menunduk memutar gerbang permulaan
Sambil duduk menegas kedepan
Berharap tersapa dengan kenangan
Sambil berdiri meratap kehati
Berharap terbuai sosok semu
Aku melangkah
aku menanti
aku pulang
hanya untuk kamu
Sunday, April 29, 2012
Monday, December 24, 2007
kota merah
Tangisan di luar pintu hanya terdengar oleh saudara terpisah samudra. dimana ruh berlari memeluk jasad dan berharap menampar penggembala besi. matahari menyambut letusantawa melalui beringasnya roda - roda pertempuran. tak kunjung usia kecepatan menghantam segenap wasiat tanpa harapan dan dengan tujuan terencana. tiga perkara tercatat di atas 10 perintah Tuhan sampai batas yang ditentukan Tuhan. Petani tak lagi menyabit, dan petinggi tak lagi duduk . perebutan yang sia - sia.....hanya memohon perhatian dunia sambil terus meminum mangkuk merah yang di taruh di tembok ratapan sambil mendengan syair - syair suci dikumandangkan pejuang surga.
suatu petuah tertera menuai senyuman..berdansa di atas gunung kebahagiaan, sambil menanti datangnya sang Isa tuk bernafas menyerang sang iblis.
Jerrusalem
suatu petuah tertera menuai senyuman..berdansa di atas gunung kebahagiaan, sambil menanti datangnya sang Isa tuk bernafas menyerang sang iblis.
Jerrusalem
Thursday, December 20, 2007
Pujian 5 benua
Bodohnya aku,
Mengandung anak adam
Tak mengasuh,
Jika sang Esa berkeluh,
Munafik
Kalian menari
Merusak
Kalian mengabdi
Membunuh
Kalian menjabat
Mengingkari
Kalian melahirkan
Sungguh, Israil ingin bersiul
Dan, ingin menangis Israfil menjawab titah sang pemerintah
Demi jiwa pendosa, Haruskah merpati api hinggap di kuasa majapahit,
Atau sumber kehidupan menyapu kehidupan, bahkan ku teriak di puncak kratatau sebelum kemelud menghiasi kediri sampai lautan api?
Pintarnya aku,
Membuang anak sang hawa
Tarian lidah api dari Black Rose
Tuesday, December 18, 2007
jalan kehidupan
Diantara sajak dunia aku hanya setitik debu dan setiap salam yang ku ucap berupa hempasan fana.
Di garis tanganku terletak prahara semesta yang tengah menanti kemunafikan nurani.
Di qalbuku terkunci amanah prabu yang siap terberai dengan lantunan harapan.
Di bibirku terdakwa hantaman peringatan 10 malaikat yang mampu memberhentikan laju waktu.
Duri dalam tulang siap kucabut, dengan segenap nyawa di ujung sarafku.
Damai dalam kebiadaban siap kutindas, dengan segenap nafas di ujung hariku.
Dahaga dalam kepanikan siap ku hapus, dengan dua sayap yang mendampingku.
Dusta dalam kebenaran siap kutelusiri, denan jalan yang terbenam kelam.
Dikte manusia akan berkibar menantang penjuru surga.
kala aku tak mampu, teruskan aku wahai masa depan.
kala aku terhenti berjuang, ingatkan aku akan masa depan.
karena aku tengah menyusun rencana bahaya,dan berjalan dengan harapan hampa...yang bersemayam di kegilaanku, sembari berjalan di rantai kematianku.
selamat malam wahai sahabat.
Di garis tanganku terletak prahara semesta yang tengah menanti kemunafikan nurani.
Di qalbuku terkunci amanah prabu yang siap terberai dengan lantunan harapan.
Di bibirku terdakwa hantaman peringatan 10 malaikat yang mampu memberhentikan laju waktu.
Duri dalam tulang siap kucabut, dengan segenap nyawa di ujung sarafku.
Damai dalam kebiadaban siap kutindas, dengan segenap nafas di ujung hariku.
Dahaga dalam kepanikan siap ku hapus, dengan dua sayap yang mendampingku.
Dusta dalam kebenaran siap kutelusiri, denan jalan yang terbenam kelam.
Dikte manusia akan berkibar menantang penjuru surga.
kala aku tak mampu, teruskan aku wahai masa depan.
kala aku terhenti berjuang, ingatkan aku akan masa depan.
karena aku tengah menyusun rencana bahaya,dan berjalan dengan harapan hampa...yang bersemayam di kegilaanku, sembari berjalan di rantai kematianku.
selamat malam wahai sahabat.
Bahasa dunia
Wahai syetan!, aku bertanya engkau akan menjawab dengan kesesatan arah.
Wahai syetan!, aku berlari engkau sudah menungguku dengan buaian dosa.
Wahai syetan!, aku menunduk engkau ingin memayungiku dengan kebohonangan dunia.
Wahai Syetan!, aku tertidur engkau akan memelukku dengan kesemuan keserakahan mimpi.
Oh Tuhan, aku terbimbang engkau telah mempertunjukan ribuan surat.
Oh Tuhan, aku terjatuh engkau berlari menghampiriku dengan harapan.
Oh Tuhan, aku terbusung engkau mengayuhku dengan salam kerendahan.
Oh Tuhan, aku terbangun engkau merujukku dengan kepastian kesejahteraan.
Wahai syetan!, aku berlari engkau sudah menungguku dengan buaian dosa.
Wahai syetan!, aku menunduk engkau ingin memayungiku dengan kebohonangan dunia.
Wahai Syetan!, aku tertidur engkau akan memelukku dengan kesemuan keserakahan mimpi.
Oh Tuhan, aku terbimbang engkau telah mempertunjukan ribuan surat.
Oh Tuhan, aku terjatuh engkau berlari menghampiriku dengan harapan.
Oh Tuhan, aku terbusung engkau mengayuhku dengan salam kerendahan.
Oh Tuhan, aku terbangun engkau merujukku dengan kepastian kesejahteraan.
Perjalanan panjang
25 musim berjalan memangku kenangan, kebahagiaan, kesedihan, amarah dan kasih sayang.
Seiring dengan 200 juta keprihatinan dan penantian ketentraman, lahir sebuah harapan.
Di musim terakhir tertunduk pada dua kebimbangan, yang satu memikul beban dan yang satu menjinjing beban.
Pada satu ruang terlihat matahari berjalan bersahabat dengan waktu dan penghuni benua.
Dimana etika perilaku dan bahasa persahabatan terpaku pada akar dan gugusanya, serta permainan kehidupan tidak mampu melampau batasan jari jemari Tuhan.namun buaian mimpi akan kesejahteraan terus menampar.
Di luar jendela ruang terlukis dahsyatnya perdebatan manusia, permainan syetan dan campur tangan kebiadaban 3 bisikan iblis. Tergetar seluruh nadi setiap kali aku tersenyum mungkir, walau raga terbuang di atas keseragaman warna.
Disana aku lahir
Dan disana aku mengabdi....
Disana aku berlari
Dan disana aku akan berhenti
Aku akan pulang
Seiring dengan 200 juta keprihatinan dan penantian ketentraman, lahir sebuah harapan.
Di musim terakhir tertunduk pada dua kebimbangan, yang satu memikul beban dan yang satu menjinjing beban.
Pada satu ruang terlihat matahari berjalan bersahabat dengan waktu dan penghuni benua.
Dimana etika perilaku dan bahasa persahabatan terpaku pada akar dan gugusanya, serta permainan kehidupan tidak mampu melampau batasan jari jemari Tuhan.namun buaian mimpi akan kesejahteraan terus menampar.
Di luar jendela ruang terlukis dahsyatnya perdebatan manusia, permainan syetan dan campur tangan kebiadaban 3 bisikan iblis. Tergetar seluruh nadi setiap kali aku tersenyum mungkir, walau raga terbuang di atas keseragaman warna.
Disana aku lahir
Dan disana aku mengabdi....
Disana aku berlari
Dan disana aku akan berhenti
Aku akan pulang
Monday, December 17, 2007
singgasana kosong
Mukti Sugih pronologi manusia
Memiliki Keraguan namun bukan ketidak pastian
Memiliki Halangan namun bukan tantangan
Memiliki Rencana namun bukan tujuan
Memiliki segala namun bukan kebahagiaan
Di satu malam ku bersujud mencari jawaban
Tersila dengan lantunan pentunjuk dan syair suci
Kembali merangkum masa lalu di antero jagad
sambil menggantikan singgasana nafsu dengan keabadian Tuhan
Tiada bantuan mengulur pada seluruh jasad dikenal
Tiada harapan mencerca pada seluruh tulisan dibuai
Tiada tandingan menggapai kuasa darinya
Tiada mimpi yang menyesatkan membelai hadir
Kini aku pasti tanpa keraguan
Kini aku tantang semua halangan
Kini aku tertuju dalam satu rencana
Kini aku bahagia tanpa segala
black rose
Memiliki Keraguan namun bukan ketidak pastian
Memiliki Halangan namun bukan tantangan
Memiliki Rencana namun bukan tujuan
Memiliki segala namun bukan kebahagiaan
Di satu malam ku bersujud mencari jawaban
Tersila dengan lantunan pentunjuk dan syair suci
Kembali merangkum masa lalu di antero jagad
sambil menggantikan singgasana nafsu dengan keabadian Tuhan
Tiada bantuan mengulur pada seluruh jasad dikenal
Tiada harapan mencerca pada seluruh tulisan dibuai
Tiada tandingan menggapai kuasa darinya
Tiada mimpi yang menyesatkan membelai hadir
Kini aku pasti tanpa keraguan
Kini aku tantang semua halangan
Kini aku tertuju dalam satu rencana
Kini aku bahagia tanpa segala
black rose
Subscribe to:
Posts (Atom)
